“Nasrudin dan Seorang Pencuri”

August 22nd, 2007 by rizkibeo

Seorang pencuri memasuki rumah Nasrudin dan membawa hampir semua harta benda Nasrudin ke rumahnya sendiri. Nasrudin melihat semua kejadian itu dari jalanan. Beberapa menit setelah itu, Nasrudin mengambil selimut, dan mengikuti sang pencuri pulang dan kemudian berbaring di sebelah pencuri itu.
"Siapa kamu, dan apa yang kau lakukan di sini?" tanya si pencuri.
"Lho, bukannya kita sedang pindah rumah?"

“Nasrudin dan Ayam Jantan”

August 22nd, 2007 by rizkibeo

Sekelompok pemuda bersepakat akan mempermainkan Nasruddin. Masing-masing di antara mereka membawa sebutir telur dan mengajak Nasrudin ke tempat mandi umum.

Di dalam tempat mandi umum mereka berkata: "Kita sekarang mau bertelur, yang tidak bertelur harus mentraktir."

Lalu para pemuda itu berjongkok, berkokok, dan menggelindingkan telur yang mereka sembunyikan di dalam celana mereka. Seraya berpaling ke arah Nasrudin, mereka melihatnya sedang mengepak-kepakkan kedua tangannya dan mulai bersuara seperti ayam jantan.

"Demikian banyak ayam betina membutuhkan seekor ayam jantan," kata Nasrudin kepada para pemuda yang keheranan itu.

“Nasrudin dan Hadiah Raja”

August 22nd, 2007 by rizkibeo

Nasrudin punya sebuah kabar baik untuk sang Raja. Dan setelah dengan susah payah berusaha menghadap raja, akhirnya ia pun bisa menceritakan berita baik itu.

Raja tampak gembira mendengar cerita Nasrudin. "Pilih sendiri, hadiah apa yang kau inginkan," katanya.

"Lima puluh cambukan," kata Nasrudin.

Meskipun terheran-heran, Raja memerintahkan juga agar Nasrudin dicambuk.

Ketika cambukan sudah sampai ke yang dua puluh lima, Nasrudin berteriak: "Berhenti!" "Sekarang," katanya, "bawa masuk temanku, dan beri ia setengah dari hadiah yang kuperoleh. Tadi aku telah bersumpah untuk memberinya setengah dari hasil yang kuperoleh karena kabar baik yang kusampaikan itu."

“Takut MIskin di Dunia atau di Akhirat?”

August 22nd, 2007 by rizkibeo

Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi dengan seorang kiai makrifat, pemuda itu pun mengikuti anjurannya untuk menjalankan shalat Hajat serta tetap istiqomah melaksanakan shalat wajib lima waktu.

”Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar Allah SWT melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,” keluh si pemuda.

”Teruskanlah dan jangan berhenti, Allah selalu mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti Allah mengabulkannya. Bersabarlah!” Jawab sang kiai.

”Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup?”

”Ya tentu saja tetap dari Allah, pokoknya sabar, pasti ada jalan keluarnya. Teruslah beribadah.”

”Percuma saja Pak Kiai. Setiap hari shalat lima waktu, shalat Hajat, shalat Dhuha, tapi Allah belum juga mengabulkan permohonan saya. Lebih baik saya berhenti saja beribadah…” jawab pemuda itu dengan kesal.

”Kalau begitu, ya sudah. Pulang saja. Semoga Allah segera menjawab permintaanmu,” timpal kiai dengan ringan.

Pemuda itu pun pulang. Rasa kesal masih menggelayuti hatinya hingga tiba di rumah. Ia menggerutu tak habis-habisnya hingga tertidur pulas di kursi serambi. Dalam tidur itu, ia bermimpi masuk ke dalam istana yang sangat luas, berlantaikan emas murni, dihiasi dengan lampu-lampu terbuat dari intan permata. Bahkan beribu wanita cantik jelita menyambutnya. Seorang permaisuri yang sangat cantik dan bercahaya mendekati si pemuda.

”Anda siapa?” tanya pemuda.
”Akulah pendampingmu di hari akhirat nanti.”
”Ohh… lalu ini istana siapa?”
”Ini istanamu, dari Allah. Karena pekerjaan ibadahmu di dunia.”
”Ohh… dan taman-taman yang sangat indah ini juga punya saya?”
”Betul!”
”Lautan madu, lautan susu, dan lautan permata juga milik saya?”
”Betul sekali.”

Sang pemuda begitu mengagumi keindahan suasana syurga yang sangat menawan dan tak tertandingi. Namun, tiba-tiba ia terbangun dan mimpi itu pun hilang. Tak disangka, ia melihat tujuh mutiara sebesar telor bebek. Betapa senang hati pemuda itu dan ingin menjual mutiara-mutiara tersebut. Ia pun menemui sang kiai sebelum pergi ke tempat penjualan mutiara.

‘Pak Kiai, setelah bermimpi saya mendapati tujuh mutiara yang sangat indah ini. Akhirnya Allah menjawab doa saya,” kata pemuda penuh keriangan.

”Alhamdulillah. Tapi perlu kamu ketahui bahwa tujuh mutiara itu adalah pahala-pahala ibadah yang kamu jalankan selama 3 tahun lalu.”

”Ini pahala-pahala saya? Lalu bagaimana dengan syurga saya Pak Kiai?”
”Tidak ada, karena Allah sudah membayar semua pekerjaan ibadahmu. Mudah-mudahan kamu bahagia di dunia ini. Dengan tujuh mutiara itu kamu bisa menjadi miliader.”

”Ya Allah, aku tidak mau mutiara-mutiara ini. Lebih baik aku miskin di dunia ini daripada miskin di akhirat nanti. Ya Allah kumpulkan kembali mutiara-mutiara ini dengan amalan ibadah lainnya sampai aku meninggal nanti,” ujar pemuda itu sadar diri. Tujuh mutiara yang berada di depannya itu hilang seketika. Ia berjanji tak akan mengeluh dan menjalani ibadah lebih baik lagi demi kekayaan akhirat kelak.

(dari ‘Guyon Orang-Orang Makrifat’, Wibi AR)

“Nasrudin dan Pohon”

August 22nd, 2007 by rizkibeo

Nasrudin berbaring di bawah sebuah pohon murbai pada suatu siang di musim panas. Rupanya, ia sedang mengincar buah semangka yang tumbuh tak jauh dari tempat itu. Tapi pikirannya sejenak berpindah kepada sesuatu yang lebih tinggi.

"Bagaimana mungkin," pikirnya, "pohon sebesar ini tapi buahnya kecil seperti itu? Sedang pohon yang menjalar dan mudah patah saja bisa menghasilkan buah yang besar dan segar…"

Ketika Nasrudin asyik dengan lamunannya itu, tiba-tiba sebuah murbai jatuh dan mendarat di kepalanya yang plontos habis dicukur bersih.

"Aku tahu sekarang," kata Nasrudin. "Ini ‘kan alasannya? Seharusnya aku memikirkan hal itu sebelumnya."

“Nasrudin Kehilangan Satu Sen”

August 22nd, 2007 by rizkibeo

Ketika sedang duduk di sebuah batu besar di pinggiran sungai, Nasrudin melihat sepuluh orang buta yang ingin menyeberangi sungai. Ia menawarkan bantuan kepada mereka dengan bayaran satu sen per orang. Mereka setuju, dan Nasrudin pun memulai pekerjaannya.

Sembilan orang telah selamat sampai ke tepi sungai. Tapi ketika ia sedang sibuk dengan orang yang kesepuluh, orang yang malang itu terpeleset dan hanyut dibawa air. Merasakan ada sesuatu yang salah, kesembilan yang selamat mulai berteriak: "Apa yang terjadi Nasrudin?" "Aku kehilangan uang satu sen."

Nasrudin Belajar Musik

August 22nd, 2007 by rizkibeo

Pada suatu hari Nasrudin mendengar ada seorang pemuda yang mahir bermain musik dengan sangat indah. Ia pun tertarik untuk belajar musik.

Keesokan harinya ia pergi ke kota menemui seorang guru musik kenamaan.

"Tuan, saya ingin belajar musik. Berapa bayarannya?"

Sang guru sejenak melihat wajahnya, sebelum akhirnya menjawab, "Murid-muridku membayarku tiga dirham untuk bulan pertama, dan untuk bulan berikutnya membayar satu dirham."

Nasrudin berpikir sejenak, lalu menjawab," Baiklah. Saya akan mulai kursus pada bulan kedua saja."

“LUBANG HITAM”

August 21st, 2007 by rizkibeo

Abad ke-20 menyaksikan banyak sekali penemuan baru tentang peristiwa alam di ruang angkasa. Salah satunya, yang belum lama ditemukan, adalah Black Hole [Lubang Hitam]. Ini terbentuk ketika sebuah bintang yang telah menghabiskan seluruh bahan bakarnya ambruk hancur ke dalam dirinya sendiri, dan akhirnya berubah menjadi sebuah lubang hitam dengan kerapatan tak hingga dan volume nol serta medan magnet yang amat kuat.

Kita tidak mampu melihat lubang hitam dengan teropong terkuat sekalipun, sebab tarikan gravitasi lubang hitam tersebut sedemikian kuatnya sehingga cahaya tidak mampu melepaskan diri darinya. Namun, bintang yang runtuh seperti itu dapat diketahui dari dampak yang ditimbulkannya di wilayah sekelilingnya. Di surat Al Waaqi’ah, Allah mengarahkan perhatian pada masalah ini sebagaimana berikut, dengan bersumpah atas letak bintang-bintang:

Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. (QS. Al Waaqi’ah, 56: 75-76)

Istilah "lubang hitam" pertama kali digunakan tahun 1969 oleh fisikawan Amerika John Wheeler. Awalnya, kita beranggapan bahwa kita dapat melihat semua bintang. Akan tetapi, belakangan diketahui bahwa ada bintang-bintang di ruang angkasa yang cahayanya tidak dapat kita lihat. Sebab, cahaya bintang-bintang yang runtuh ini lenyap. Cahaya tidak dapat meloloskan diri dari sebuah lubang hitam disebabkan lubang ini merupakan massa berkerapatan tinggi di dalam sebuah ruang yang kecil. Gravitasi raksasanya bahkan mampu menangkap partikel-partikel tercepat, seperti foton [partikel cahaya]. Misalnya, tahap akhir dari sebuah bintang biasa, yang berukuran tiga kali massa Matahari, berakhir setelah nyala apinya padam dan mengalami keruntuhannya sebagai sebuah lubang hitam bergaris tengah hanya 20 kilometer (12,5 mil)!

Lubang hitam berwarna "hitam", yang berarti tertutup dari pengamatan langsung. Namun demikian, keberadaan lubang hitam ini diketahui secara tidak langsung, melalui daya hisap raksasa gaya gravitasinya terhadap benda-benda langit lainnya. Selain gambaran tentang Hari Perhitungan, ayat di bawah ini mungkin juga merujuk pada penemuan ilmiah tentang lubang hitam ini:

Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan..QS. Al Mursalaat, 77: 8)

Selain itu, bintang-bintang bermassa besar juga menyebabkan terbentuknya lekukan-lekukan yang dapat ditemukan di ruang angkasa. Namun, lubang hitam tidak hanya menimbulkan lekukan-lekukan di ruang angkasa tapi juga membuat lubang di dalamnya. Itulah mengapa bintang-bintang runtuh ini dikenal sebagai lubang hitam. Kenyataan ini mungkin dipaparkan di dalam ayat tentang bintang-bintang, dan ini adalah satu bahasan penting lain yang menunjukkan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah:

Demi langit dan Ath Thaariq, tahukah kamu apakah Ath Thaariq? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus. (QS. At Thaariq, 86: 1-3)

(Dicuplik dari swaramuslim)

“MENGUAK RAHASIA LAMPU MERAH”

August 21st, 2007 by rizkibeo

"Menguak Rahasia Lampu Merah"

oleh Rizki Budi Utomo

Berlalulintas adalah kegiatan harian yang tidak bisa dihindari. Pergi dari satu tempat ke tempat lain adalah menu wajib manusia normal dalam keseharian berkehidupan. Pergi berangkat dari rumah pada pagi hari untuk bekerja kemudian pulang pada sore hari merupakan hakekat dari transportasi dalam kehidupan nyata. Transportasi yang paling banyak adalah dengan menggunakan jalan raya sebagai prasarananya. Di jalan raya seluruh moda transportasi darat bercampur, dari mulai mobil pribadi, sepeda motor, bus, truk, sepeda hingga becak. Percampuran berbagai moda dengan berbagai karakteristik yang berbeda inilah yang menyebabkan adanya aturan lalulintas (traffic rules), seperti aturan arah arus lalulintas, rambu, marka, hingga parkir. Aturan menjadi agak lebih rumit ketika satu ruas jalan bertemu dengan ruas jalan lain, yang disebut persimpangan.

Menarik untuk dicermati adalah keberadaan lampu merah (selanjutnya disebut lampu lalulintas) di persimpangan yang telah menjadi bagian hidup kita sehari-hari, meskipun sering tidak kita sadari. Pernahkah kita menghitung seberapa banyak kita melintas di simpang dengan lampu lalulintas dalam sehari? Atau, berapa detik nyala waktu hijau, waktu merah, waktu kuning pada suatu simpang? Yang sering terdengar adalah gerutu apabila nyala merah terlalu lama, atau nyala hijau yang terlalu singkat.

Persoalan lampu lalulintas adalah santapan sehari-hari, namun kita seringkali tidak menyadari hakekat, fungsi dan tujuan dari lampu lalulintas itu sendiri, sehingga menjadikannya sebagai sesuatu yang ‘rahasia’, ‘tidak jelas’, ‘membingungkan’, hingga muncul istilah simpang ‘jebakan’.

Secara umum, simpang terdiri atas simpang bersinyal, yakni simpang yang dilengkapi dengan lampu lalulintas atau Alat Pemberi Isyarat Lampu Lalulintas (disingkat APILL), dan simpang tak bersinyal, yakni simpang tanpa APILL, dan biasanya diatur dengan rambu.

Dari kacamata sejarah, sebelum adanya APILL, yang berperan sebagai pengatur arus lalulintas adalah petugas polisi lalulintas. Eksistensi lampu lalulintas muncul pertama kali di Westminster Inggris pada tahun 1868 dengan menggunakan gas. Kemudian pada tahun 1918 di New York, dengan formasi merah-kuning-hijau yang dioperasikan secara manual. Pada 1926 telah dilakukan pengoperasian lampu secara semi otomatis di Wolverhampton Inggris. Secara teknis, pengaturan lampu memang berkembang pesat dari pengoperasian secara manual oleh manusia, semi-otomatis, otomatis, hingga sistem kamera dan ATCS (Automatic Traffic Control System) yang juga sudah dioperasikan di Jakarta. Lampu isyarat lalulintas ini merupakan standar internasional, seperti juga rambu lalulintas yang ada di tepi jalan. Merah, kuning dan hijau adalah warna yang sudah paten di negeri manapun, meskipun dalam pengaturannya terdapat beberapa perbedaan. Misalnya secara umum aturan nyala adalah hijau – kuning – merah, namun ada pula dengan aturan hijau – kuning – merah – kuning. Warna kuning setelah merah dimaksudkan agar kendaraan dapat bersiap-siap untuk bergerak (Munawar, 2004).

Di Indonesia, pengaturan lampu lalulintas ini tertuang dan dilindungi oleh Undang-Undang Lalulintas dan Angkutan Jalan Nomor 14 Tahun 1992, seperti pada Pasal 8, Pasal 23, serta Pasal 61. Umumnya pengaturan pergantian nyala hijau pada suatu lengan dalam suatu simpang (atau urutan arus lalulintas yang mendapat nyala hijau, biasanya disebut fase) biasanya searah jarum jam. Misalnya dalam simpang empat urutan hijau adalah Utara – Timur – Selatan – Barat (disebut 4 fase). Namun aturan ini sangat tidak baku, tergantung dari hasil analisis ahli lalulintas berdasarkan volume dan komposisi lalulintas serta geometri simpang.

Di Yogyakarta, pengaturan simpang sangat beragam. Simpang tiga Janti, Babarsari dan Prambanan memiliki karakteristik yang hampir sama dalam aturan lampu lalulintas. Simpang-simpang tersebut merupakan simpang tiga dengan aturan yang disebut early cut-off (pemotongan awal) pada suatu fase, atau penghentian arus lalulintas pada salah satu lajur. Artinya misalnya di simpang Janti, pada lengan Barat, lajur yang akan berbelok ke kanan (Selatan) dihentikan terlebih dahulu (merah), bersamaan waktunya dengan hijau di lengan Timur. Sementara arus dari Barat ke Timur masih mendapat hijau hingga akhir fase. Simpang ini berbeda dengan simpang tiga IAIN yang mempunyai tiga fase murni. Simpang empat Gramedia juga sangat berbeda karakteristiknya dengan simpang empat yang lain.

Namun secara garis besar, lampu lalulintas dipergunakan untuk mengatur arus lalulintas, mencegah kemacetan di simpang, memberi kesempatan kepada kendaraan lain/pejalan kaki dan meminimalisasi konflik kendaraan. Dalam tujuannya meminimalisasi konflik, maka setelah waktu kuning, diberikan waktu lain yang disebut waktu all red (waktu merah semua), atau waktu ketika dua lengan sama-sama mendapat nyala merah. Contoh konkretnya adalah ketika lengan Utara mendapat nyala kuning kemudian merah, lengan Timur tidak segera langsung mendapat hijau. Ada waktu antara, yakni all red, yang besarnya biasanya 2 detik. Hal ini bertujuan untuk membersihkan simpang dari kendaraan, sehingga tidak terjadi konflik arus yang berpotensi pada terjadinya kecelakaan lalulintas. Lampu kuning dimaksudkan agar kendaraan bersiap-siap untuk berhenti, bukan bersiap-siap untuk terus melaju. Besarnya waktu kuning biasanya 3 detik untuk simpang-simpang yang berukuran kecil dan sedang, dengan lebar jalan rata-rata 6 – 14 meter (MKJI 1997).

Karena simpang-simpang di Yogyakarta umumnya berukuran kecil dan sedang, maka tidak heran apabila nyala lampu kuningnya memang ‘hanya’ 3 detik. Lampu kuning yang menyala lebih lama justru akan memicu tindakan melanggar lampu lalulintas dan akan memperpanjang waktu seluruh siklus, sehingga antrian kendaraan pada lengan yang lain akan bertambah panjang atau terjadi kemacetan di sisi jalan yang lain. Lampu kuning yang terlalu singkat juga berimbas pada terjadinya konflik yang memicu terjadinya kecelakaan. Waktu hijau dapat dihitung dan sebaiknya di atas 10 detik, yang dimaksudkan untuk menghindari pelanggaran lampu merah dan kesulitan pejalan kaki yang menyeberang.

Secara khusus, seluruh pengaturan nyala lampu lalulintas seharusnya merupakan hasil analisis yang komprehensif dari ahli lalulintas (traffic engineer) dan harus selalu diperbaharui (updated) sesuai dengan kondisi lalulintas eksisting. Ini akan mengurangi kemacetan serta menguntungkan pengguna jalan. Lampu lalulintas yang rusak harus segera diperbaiki untuk mencegah kecelakaan dan agar pengguna jalan tidak merasa dirugikan apabila ketika tiba-tiba lampu berfungsi kembali setelah lama tidak berfungsi.

Salah satu contoh optimalisasi lampu lalulintas yang telah dilakukan di Yogyakarta adalah pada simpang Kentungan dengan cara memajukan garis henti pada lengan Utara (Jalan Kaliurang). Memajukan garis henti dimaksudkan agar jarak perlintasan simpang menjadi lebih pendek, sehingga waktu siklus menjadi pendek.

Ada beberapa tips yang dapat dilakukan dalam menghadapi simpang dengan lampu lalulintas, yakni : Pertama, jalankan kendaraan pada lajur yang tepat. Artinya untuk berbelok ke kanan, maka harus digunakan lajur kanan, yang biasanya ditunjukkan dengan tanda marka berupa garis putih bertanda panah ke kanan. Begitu pula apabila bermaksud lurus atau belok kiri. Di Yogyakarta, aturan ini seringkali dilanggar. Banyak pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor yang ingin lurus namun mengambil lajur kanan. Hal ini sangat membahayakan keselamatan. Yang juga menjadi perhatian adalah banyaknya pengendara yang melanggar garis marka pada simpang.

Kedua, pelankan kendaraan apabila lampu lalulintas telah berwarna kuning. Anda dapat terus melaju apabila roda kendaraan telah menyentuh garis henti (stop line) pada saat lampu menyala kuning, dengan perhitungan bahwa waktu kuning ditambah waktu all red adalah 3 + 2 = 5 detik dan syarat kepastian untuk dapat melintasi simpang dengan aman.

Ketiga, adalah hentikan kendaraan di belakang garis henti dan di dalam garis marka, karena pada posisi ini Anda mendapat kepastian dan kekuatan hukum yang kuat serta memberi kesempatan dan ruang kepada pejalan kaki yang menyeberang.

Keempat, apabila melintasi simpang yang belum dikenal, cukup melihat nyala lampu pada lajur yang dipilih. Pada simpang yang tidak terdapat keterangan apapun, maka aturan ‘belok kiri jalan terus’ atau LTOR (Left Turn On Red) diberlakukan. Artinya apabila dalam kotak lampu merah terdapat tanda panah merah untuk belok kiri, maka Anda dilarang belok kiri pada saat nyala merah. Begitu pula apabila tedapat keterangan ‘Belok Kiri Ikuti Lampu’, maka untuk berbelok kiri, Anda harus melihat nyala lampu, apabila merah maka memang harus berhenti.

Kelima adalah tips untuk polisi lalulintas, yakni lakukan tindakan persuasif untuk memberikan kesadaran tertib berlalulintas. Sebab sejauh ini masyarakat masih menilai keberadaan polisi sebagai sosok penindak daripada pencegah pelanggaran hukum. Sosok polisi ramah yang memberikan pengertian akan jauh lebih bijaksana daripada polisi yang angker dan main tilang. Pengertian tentang makna, hakekat, fungsi dan tujuan dari eksistensi lampu lalulintas patut diberikan kepada masyarakat sedini mungkin. Sosialisasi, pembinaan dan pembelajaran tertib berlalulintas seharusnya memang menjadi agenda utama seluruh stakeholders yang terlibat dalam permasalahan lalulintas.

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Bernas Jogja tahun..mm berapa ya? 2002-an kayaknya)

“AL WAHN”

August 20th, 2007 by rizkibeo

”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke liang kubur.” (QS At-Takatsur [102]: 1-2).

Rasulullah SAW bersabda di hadapan para sahabatnya, ”Suatu masa nanti kalian akan diserbu oleh musuh-musuh kalian dari berbagai penjuru seperti hidangan yang diserbu oleh orang-orang yang kelaparan dan ingin memakannya.

Para sahabat terheran-heran dan bertanya, ‘Apakah karena saking sedikitnya jumlah kami ketika itu ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, bahkan pada hari itu jumlah kamu sangat banyak. Namun, jumlah yang banyak itu hanya seperti buih di lautan. Dan ketika itu, kamu dijangkiti penyakit al-wahn.’ Para sahabat bertanya lagi, ‘Apa itu al-wahn?’ Rasulullah bersabda, ‘Cinta dunia dan takut pada kematian’.” (HR Abu Dawud).

Allah SWT mengingatkan bahwa jumlah yang banyak tanpa ditopang dengan akidah yang benar, bukan menjadi jaminan kemenangan Muslimin. Sebab, bila penyakit al-wahn ini sudah menginfeksi seluruh syaraf keimanan, saluran keimanan seseorang akan lumpuh dan melupakan bahwa muara kehidupan di dunia ini adalah akhirat.

Imbasnya sangat ironis, akar kekuatan Muslim tercerabut dengan hilangnya rasa persaudaraan, apatis, dan apriori pada nasib saudaranya yang kesusahan. Masuknya virus al-wahn ini juga akan diiringi dengan bibit-bibit penyakit lain seperti sekularisme, kapitalisme, dan penyakit akidah lainnya yang berpotensi membunuh iman.

Sikap zuhud dan ukhuwah Islamiyah adalah serum yang tepat untuk menangkal serangan dan wabah al-wahn ini. ”Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu memberikan kelebihan hartamu, maka itu lebih baik bagimu. Namun jika kamu menahannya, maka itu sangat jelek bagimu. Tidaklah kamu dicela dalam kesederhanaan. Dan dahulukanlah orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR Tirmidzi).

Zuhud inilah yang menjadi sikap awal tumbuhnya rasa persaudaraan di antara Muslim. Dengan kesederhanaan, sikap tamak pada dunia akan terkikis dengan sendirinya, sehingga muncul sikap hidup yang selalu ingin memberi kelebihan hartanya kepada yang membutuhkan.

Rasulullah SAW bersabda bahwa barometer keimanan seorang Muslim adalah kecintaannya terhadap sesama Muslim. Bila ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya, maka barulah ia benar-benar beriman.

”Siapa saja yang mengunjungi orang sakit atau bersilaturahim mengunjungi saudaranya karena Allah, maka dua malaikat memuji dan mendoakannya, ‘Bagus kamu dan bagus pula perjalananmu, dan surgalah tempatmu.” (HR Tirmidzi).

(oleh : Imam Santoso, dicuplik dari Hikmah Republika)